Sabtu, 15 Agustus 2009

Dalam pulasmu.

pergilah pada katamu
selalu tanpa alasan,mengapa dan siapa
jalan yang tertempuh, buntu ditemaram
masih lekat, senyum dan sedihmu
menyendiri dalam kesendirian

selama kusebut kekasih
hingga terlupa kekasih
ucapmu memaknai sendiri, dan terpaksa fahami
jelas, makna itu kubaca di matamu
pergilah dari hatimu, akupun kembali menulis irama bayu
kita telah merajut irama angsa putih, menjadi auman
aku mengecap rasa ini,payau..

kembali dimakna yang purba
saat aku tak mengerti malam berhak atas siang
menetek darimu pengampun.
dan aku membuat drama surga diiringan dosa
aku meminumnya, sepanjang teguk menasbih

kapan, kita akan kembali menjelma malam
mengitari lorong yang penuh lolong tanya
pasrah kita tersunting, di situ
belaikan rembulan itu ditatapmu
barnyanyi di pancabuta
mengisi kekosongan terapatkan

tak dinyana?

Label:

1 Komentar:

Blogger warna warna hati mengatakan...

mungkin sayap angsapun malai tak putih
karnanya payau yang menjemput
sungguh malam hanya mampu menatap rembulan kosong...


siiip siippp
tetap semangadd berkarya

30 Agustus 2009 pukul 14.17  

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda